Sesa'at sebelum mati

        Kematian adalah sesuatu yang nyata di setiap hari manusia, bukan hanya pada kaum yang agamis tapi bahkan ke kaum atheis juga sama. Kematian adalah suatu hal yang tak pernah terdeteksi oleh waktu tapi kebiasaan nya/ adat nya sudah banyak di ketahui. Seperti jika kita memotong leher kita dengan apapun itu maka adatnya/kebiasaan hal yang akan terjadi adalah mati, tapi itu tidak pasti.

Dalam pandangan Islam, diri manusia di bagi menjadi dua. Yang pertama adalah raga, yang kedua adalah ruh. Ibaratnya raga/jasad ini adalah wadah dan ruh adalah air yang menggenang di dalamnya. Maka jika air itu keruh walaupun wadahnya bagus maka orang lain akan menjauhinya atau bahkan mendekati tapi hanya mengambil wadah dan membuang airnya. Mereka hanya akan memanfaatkan ragamu dan manfaatnya dan akan membunuhmu.

Dalam prinsip-prinsip kaum stoa, Kematian adalah sesuatu yang tidak harus ditakutkan, begitu juga dalam agama Islam. Mereka memiliki prinsip bahwa kematian adalah episode dari kehidupan( yang harus ada dalam kehidupan) dan kita tidak layak untuk takut karena kita semua memang akan mati. Dalam buku Filosofi teras karya Henry manampiring atau lebih sering di sapa dengan sebutan Om piring Ada adagium dari filsafat stoa yang berbunyi:

"Saya harus mati. Jika sekarang saatnya, biarlah saya mati sekarang. Jika masih nanti, saya mau makan siang dulu  sekarang, karena jam makan siang sudah tiba. Soal mati, nantinya saya urus." Kata yang sudah diterjemahkan ini keluar dari mulut seorang filsuf kelahiran hierapolis, turki. Namanya adalah Epictetus. Kata itu tertulis dalam bukunya yang berjudul "Discourses".

Epictetus adalah seorang filsuf yang beraliran stoisisme yang membuatnya tidak terlalu memikir beratkan masalah kematian karena kematian adalah sebuah masalah tapi tidak harus di besar-besarkan. Segala ketukan manusia mengenai kematian bukanlah disebabkan karena kematian itu sendiri. Tapi anggapan dan gambaran yang muncul dalam pikiran mereka. Baik itu rasa sakit ketika mati, ketika terlepasnya ruh dari jasadnya. 

Bahwa kita harus merasa semua hal yang menurut kita adalah milik kita, kita harus merelakannya. Jadilah kita sebagai orang yang tidak terlalu berat dan sedih ketika mendengar kata kematian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duka bersajak

Jalan Pulang