Jalan Pulang

       Introduction : Buku Renungan atas segala rasa yang pernah singgah di hatimu

       Jalan Pulang.

                     Selamat Membaca                 

______________________________________________

                          Hujan Hari Ini

Sudah selesai?.

Banyak sekali kesibukan yang kita lakukan hari ini. Namun tak semua dari hal itu akan membangun jiwa kita, terkadang malah membuatnya kandas ke dasar lautan, semakin membuatmu nyaman dalam keadaan itu dan akhirnya kita hanyut dalam perasaan itu. Kelelahan, kesedihan, ketidakpuasan, dan kegagalan.

Entah bisikan apa yang membuat kita lebih memilih nyaman dalam keadaan itu. Tapi terkadang kita juga tidak menyadari bahwa kita sedang melukai diri kita sendiri dan kita hanya diam saja.

Kita begitu lelah hari ini, raga kita tetap normal tapi tidak dengan raga kita.

Hari ini, saya menyadari banyak hal. Kesibukan saya sebagai penulis dan kutu buku membuat saya waktu itu tak sengaja membaca sepotong paragraf kusam. Beberapa kata tertulis di sana, di buku diary kusam milikku.

“Jika pun saya mati, atau bahkan tewas dengan sangat buruk. Siapa yang akan peduli.

Engkau tak pernah ada.”

Potongan kata yang membuat saya atau mungkin kita merasakan kesedihan itu. Membuat saya kembali ke masa lalu yang sangat kelam.

Kesedihan itu seakan menjadi nyata sebagai diri kita yang kedua, selalu bercakap-cakap dengan kita, menghibur, dan tertawa dengan sangat riang sedangkan kenyataanya, kita hanya tertawa sendirian atau mungkin hanya tersenyum.

Gila.

Tapi kita suka dengan kegilaan itu.

Hingga saat kita ditanya, “Mengapa engkau sedih?.” Kita hanya menjawab entahlah, aku tidak bersedih, aku tidak mengerti. Kesedihan itu sudah menjadi diri kita, kita tak mengerti dengan hal itu. Rasa itu adalah kesamaran yang kita menerima nya.

Hingga kita akan bersikap masa bodo dan hanya menyeduh kopi di malam hari seakan tidak terjadi apapun sedangkan sebenarnya kita sedang membunuh kita sendiri, darah kita terbuang tak tersisa dan kita hanya bersantai.

“Jika pun saya tewas, siapa yang akan peduli?.”

Untuk pembuka kali ini, izinkan aksara ini menemani semua kesedihan itu, kebencian, kegagalan, putus asa, dan semua perasaan itu. Hingga engkau akan mengerti bahwa engkau tak pernah sendirian, ada banyak orang yang serupa dengan mu atau bahkan lebih buruk. Kita berkumpul atas semua kegagalan dan kesedihan itu.

Good luck.

Atas segala hal itu, kami sudah selesai.

                                Jeda

Setiap hal yang berusaha kita lupakan tak akan benar-benar terjadi atau bahkan tak akan pernah terjadi. Karena engkau masih memikirkannya, engkau berusaha melupakannya tapi engkau sendiri mengingatnya?. Izinkan kami menyederhanakan itu semua. Melupakan adalah suatu hal yang tak ada kaitannya dengan kesadaran karena itu memang kebalikan nya. Untuk itulah engkau tidak bisa melupakan sesuatu dengan dasar berupa kesadaran. Kecuali jika engkau menelan pil pelupa hingga engkau menjadi gila.

Terkadang kita perlu jeda untuk membuat hal itu menjadi lebih baik. Semua hal akan berakhir indah, tergantung bagaimana kita merapikannya. Lukamu perlu di seka tapi engkau juga harus merasakan prosesnya yang juga menyakitkan. Nikmati saja semua hal itu dan jadilah dirimu sendiri.

Engkau tak harus selalu berlari dan melupakan dirimu sendiri, dirimulah yang lebih penting bahkan jika mereka tak peduli denganmu.

Dahulu ada seorang bocah berumur 7 tahun. Selayaknya bocah pada umumnya, ia bercita-cita menjadi seorang pemain sepak bola dan akan berusaha untuk itu. Ia juga termasuk salah satu bocah yang paling jenius di antara bocah yang lain di sekolahnya. Ia tidak suka menabung tapi demi untuk membeli bola yang akan dibuatnya berlatih setiap hari, maka ia harus menabung. Satu hari-dua-tiga- hingga satu tahun, uangnya sudah terkumpul dan menurut perhitungannya ia sudah mengumpulkan uang sebesar 105.000 untuk membeli bola. Karena ia memang menghitung setiap pemasukan yang ada.

Saat itu senja baru saja muncul dan ia baru pulang dari acara pengajian di masjid yang ada di kampung itu. Ia sangat bersemangat karena ia juga sudah menghubungi sepupunya untuk mengantarkannya ke kota untuk membeli bola. Terburu-buru ia pulang dan langsung menuju kamarnya. Tanpa butuh waktu lama ia membuka kotak tabungannya dan menghitung uangnya. Setidaknya ini lebih atau hanya kurang sedikit untuk membeli bola. Ia berangan-angan, membayangkan ia akan mendapatkan bola dan akan menjadi pesepak bola nomor satu di dunia. Ia sangat tersenyum bahagia selayaknya bocah yang akan di belikan sepeda baru atau mungkin mainan baru yang sangat besar. Tapi yang ini dari hasil kerja kerasnya untuk menahan diri dari membeli jajanan dan manis-manisan di sekolah.

Ia kembali menghitung. 10.000-20.000-.............35.000, sampai pada uang lima ribu terakhir dan hanya terhitung 50.000. Ia sontak terkejut, hatinya penuh dengan kesedihan dan tanda tanya. Ia selalu menghitung uangnya bahkan baru tadi padi ia menghitung dan sudah ada 105.000. Dimana semua hasil kerja kerasnya?.

Ia hampir menangis, tapi semuanya ia simpan. Ia berlari tergesa-gesa menuju dapur, berusaha mengadu pada ibunya bahwa uang tabungannya telah hilang. Ia meyakinkan ibu bahwa ia selalu menabung dan sudah terkumpul 105.000.

“Sudah Maghrib, sholat saja dulu.”

Itu kata-kata yang masih ia ingat sampai ia melupakan semua kejadian itu. Berusaha melupakan.

Bocah itu sholat sendirian. Ia menangis, sangat menangis. Ia sangat bersedih karena semua kerja kerasnya untuk mengejar mimpi-mimpinya telah kandas. “Aku benar-benar sudah mengumpulkannya.” Bisiknya. Ia tak benar-benar sholat.

Sampai ia mendengar nada kemarahan keluar dari mulut ibunya dari luar ruang tempat ia sholat. Ia mendengar sayup-sayup itu. “Kok bisa, uang adiknya sendiri di curi!!.” Begitulah ia mendengar sayup suara itu dengan jelas.

Di saat itulah, ia menjadi sangat bersedih. Bukan ia yang menghancurkan mimpi itu, bukan juga keluarganya walaupun memang keluarga yang miskin tapi ia masih bisa menabung dari uang saku setiap paginya. Ia menjadi sangat menangis. Hingga saat waktu sudah terasa seperti waktu durasi sholat, ia keluar dari ruangan itu dan berpura-pura tak terjadi apa-apa. “Kayaknya uangnya di ambil tuyul bak, kapan-kapan ibu belikan bolanya ya.” Kata ibu dengan nada awal bercanda. Aku hanya tertawa menikmati semua lelucon itu.

Tak ada harapan lagi, Ia sudah selesai dengan mimpi-mimpinya. Ia tak pernah membuang mimpinya, tidak juga akan terlihat bersedih. Ia akan tetap tersenyum seakan tak terjadi apa-apa.

Mimpinya telah hancur. Berkeping-keping. Ia sudah redup dan tak akan pernah kembali terang. Ia telah hanyut dalam kesedihan.

Terkadang engkau tak harus menampakkan kebencianmu, cukup tetaplah bekerja keras dan mereka akan menjauh sendiri.

                   Senyum Yang Tersapa

Kesedihan adalah suatu hal yang wajar. Ia tercipta sebagai bentuk emosi yang tak selalu di tandai dengan tangisan. Begitu juga kebahagiaan.

Saat engkau merasa gagal, tentang apapun itu, cobalah untuk di ceritakan kepada yang lain. Bukan karena engkau lemah, tapi karena engkau tak ingin mereka juga menjadi seperti mu.

Terkadang engkau perlu gagal untuk menjadi pengalaman baik bagi orang lain selanjutnya. Terkadang engkau perlu merendah agar orang lain selalu berada di atas. Terkadang engkau perlu bertahan agar mereka selalu aman dan terjaga.

Saat engkau merasakan kegagalan dan putus asa, engkau tak selalu harus mengingatnya terus menerus. Kegagalan yang engkau alami di hari itu cukuplah di hari itu, yang terjadi di waktu itu cukup hanya ada di waktu itu. Jangan pernah membatasi dirimu dengan kegagalan yang pernah engkau lakukan sebelumnya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Duka bersajak

Sesa'at sebelum mati