Duka bersajak
Duka Bersajak.
BAB 1
Pagi hari tanpa kabut tebal. Sehelai cahaya menyilaukan mataku. Saat aku hendak mengambil sepedaku untuk berangkat ke sekolah.
"Yaaaah... Bannya kempes..". Sesalku sambil berdecak sebal.
Sekarang hari Senin. Sudah seharusnya aku berangkat lebih cepat ke sekolah. Upacara bendera akan di laksanakan dan kelasku telah dipilih untuk menjadi petugas upacara hari ini.
Kenapa sih harus ada masalah ini?!.
Tanpa menunggu lama lagi. Aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Lagi pula jarak dari rumahku ke sekolah hanya memotong beberapa menit. Terkadang aku membawa sepeda juga hanya karena senang. Minggu lalu aku baru saja dibelikan sepeda baru. Sejak itulah aku senang sekali bersepeda. Bahkan hanya untuk berangkat sekolah dengan jarak yang sebenarnya dekat.
"Zaki!!". Teriak seseorang menyapaku. Suara perempuan.
Aku menoleh. Sepertinya kenal dengan suara ini. Dan benar saja dia adalah temanku. Perkenalkan dia bulan. Namanya Ayu bulan. Dia sering bermain denganku. Bahkan mungkin hanya dia orang yang berteman denganku.
"Tumben tuh gak sama sepeda". Katanya, usil.
"Lagi bocor". Ucapku, datar.
"Haha.... Kasian banget". Ucapannya mengejek.
Aku hanya menatapnya sinis dan ikut tersenyum.
"Kalo senyum, senyum aja gak usah di tahan". Ucapannya sambil menyenggol bahuku.
"Diem. Gue lagi gak mood".
Aku langsung meninggalkan bulan. Berjalan lebih cepat. Keadaanku berubah drastis. Lebih santai dari sebelumnya. Pagi ini dibalik embun pagi yang tak begitu tebal, seseorang hadir di benakku. Dia selalu hadir. Mungkinkah ia akan singgah untuk selamanya. Semoga saja.
"Zaki.. tunggu...!!!" Teriaknya sambil menghampiriku. "Mau GK gue temenin berangkat sekolah?" Tanyanya dengan lirikan usil.
Aku meliriknya. "Terserah"
"Oke". Ucapnya memaklumi.
"Nanti elo kan yang jadi petugas bendera". Tanyaku untuk membuka pembicaraan.
"Hah?. Kata siapa.?".
"Kan kemarin sebelum pulang sekolah si Ardi ngajakin kumpulan sama anak kelas".
"Hah .. masak. Yang bener aja dong!" Ucapnya panik.
"Iya , katanya". Tegasku, meyakinkan.
"Si Ardi yang milih petugasnya?".
"Kesepakatan kelas lah".
"Terus yang ngusulin gue siapa?". Tanya bulan sambil panik.
"Siapa ya... Gue juga penasaran". Ucapku sambil memegangi dagu. Pura-pura berpikir.
Bulan yang menyadari candaan ku memukul bahuku dengan keras. "iih.. bercanda terus".
Aku hanya tertawa dan pura-pura kesakitan. "Kalo beneran gimana?"
"Ya elo yang harus tanggung jawab".
"Yang bener dong zak.. serius.." lanjutnya, sambil memohon.
"Nggak tau" ucapku usil lalu tertawa.
"Pagi-pagi udah bikin badmood aja". Ucapnya ngambek.
"Haha .. Bodo amat". Lalu tertawa lagi.
Sesampainya di sekolah aku dan Bulan langsung meletakkan barang-barang di kelas dan langsung berkumpul di lapangan sekolah. Sebelumnya bel upacara sudah terdengar. Untungnya sekarang bukan aku petugas upacara karena aku sudah pernah di Minggu kemarin.
Sialnya. Bulan sekarang sedang menjadi petugas bendera. Selama upacara, ia selalu memandangiku dengan tatapan penuh amarah. Aku hanya tersenyum melihatnya. Padahal aku memang tidak mengerti siapa yang menjadi petugas bendera kali ini. Sepertinya Bulan akan kesal kepadaku dan menuduh aku sebagai dalang dibalik masalahnya hari ini.
Upacara hari ini begitu panas. Matahari sedang sangat membakar kulit. Setelah upacara, aku dan teman sekelas langsung berlari ke kelas untuk beristirahat sejenak. Sebagian lagi ada yang ke kantin untuk membeli minuman.
***
"Lan, Lan,Lan," ucapku berkali-kali. Bulan benar-benar kesal kepadaku. Bahkan saat aku menyapanya ia tak pernah menoleh. Aku usil memanggilnya berkali-kali. Mungkin ini hari terburuknya. Hehe....
Aku duduk sebangku dengan Bulan. Ceritanya sangat panjang untuk menjelaskan tentang aku duduk dengan bulan. "Lan........" Sapaku sekali lagi sambil menyandarkan kepalaku di bangku dan menatap bulan dari arah yang lebih rendah.
"Elo ngambek lan?" Tanyaku usil dan penuh senyum.
"Lan..?"
"Hehemmm...... Enggak kok.." Ucapnya sambil senyum aneh.
Aku hanya tertawa melihatnya dari sini. "Beneran?"
"Lan__".
"Diem Zaki ya.. Bulan lagi belajar... Bisa diem kann?!!". Ucapnya dengan senyuman anehnya lagi.
Aku hanya mengiyakan sambil tertawa.
Kami duduk di bangku nomer dua dari belakang. Ada 5 baris bangku. Hari ini pelajaran bahasa inggris. Pelajaran yang sangat aku sukai, tapi tidak dengan bulan. Ia sering menanyakan tentang bahasa inggris kepadaku. Kami sering kerja kelompok jika ada tugas yang sangat sulit. Dan bulan yang selalu awal mengajakku untuk hal itu.
"Capek gue". Kata bulan, lelah lalu menyandarkan kepalanya di meja.
Aku lalu tersenyum. Berpikir bahwa bulan capek karena menjadi petugas bendera tadi pagi. Apa aku harus meminta maaf?.
"Capek beneran?". Tanyaku usil sambil terus tersenyum.
Bulan mengembuskan nafas kasar ke wajahku. Aku hanya menutup mata sekejap.
"Iyalah".
"Pulang sekolah mau kemana?". Tanyaku ingin menghibur Bulan.
"Gak tau, terserah". Ucap Bulan, tetap dengan posisinya tadi.
Aku sering bermain dengan Bulan setiap pulang sekolah. Terkadang pergi ke Taman kota, Supermarket, atau mungkin hanya jalan-jalan biasa. Bulan lebih suka bersepeda denganku dari pada harus jalan-jalan biasa.
Tak lama aku memikirkan akan pergi kemana setelah pulang sekolah nanti, bulan sudah pergi terlelap. Bulan sedikit mendengkur kali ini. Mungkin ia benar-benar kecapekan. Aku merasa sedikit bersalah walaupun memang bukan aku yang mengusulkan untuk Bulan menjadi petugas bendera.
Suasana jadi terasa hening menurutku. Terkadang aku menghibur diriku dengan meniupi poni Bulan. Rambutnya terurai panjang. Katanya ia mau memotong rambutnya sampai pundak. Tapi aku tak pernah setuju dengan hal itu. Menurutku ia lebih cantik jika dengan rambut yang panjang.
***
Bel pulang sudah berbunyi. Para siswa-siswi beranjak dari tempat duduknya. Aku membangunkan Bulan. Sebelumnya ia memilih untuk tidur di kelas dari pada harus bangun dan menikmati jam istirahat. Terpaksa aku harus menemani tidurnya.
"Ayo pulang!". Ajakku kada Bulan.
Bulan sedikit kaget dan berusaha menyadarkan matanya. "Sudah pulang?"
"Iyalah. Dari tadi". Jawabku singkat.
Bulan menguap lagi dan merapikan barang-barangnya. "Gak ada pr kan?"
"Ada"
Bulan langsung menatapku, datar. "Gak usah bohong".
Aku hanya tersenyum simpul "Beneran".Bulan menyipitkan matanya. "Gue tanyain ke Ardi loh ya. Awas kalo__"
"Kayaknya".
"Kann.. pasti boong"
"Ikut gak?". Ajakku pada Bulan. Rencanaku kali ini aku akan pergi ke taman kota. Hanya untuk menikmati pemandangan disana.
"Kemana?" Tanya Bulan saat selesai memasukkan barang-barangnya ke tas.
"Ke taman".
"Aku ikuuut...". Ucap bulang kegirangan. Seperi anak kecil yang sedang di ajak untuk membeli mainan.
Aku hanya tersenyum. "Bocil!". Ucapku pelan .
"Apa?!"
"Ayo pulang!.
Bulan langsung mengikuti langkahku. Keluar menuju lorong sekolah.
"Aku tadi tidur lama ya?". Tanya Bulan.
"Gak usah tanya. Lama banget. Mending gak usah sekolah sekalian".
Kami terus berjalan dengan keadaan sekolah sudah terasa hening. Hanya menyisakan percakapan aku dan Bulan.
Lalu Bulan tertawa."Emang iya".
"Kamu sih gak mau bangunin aku?". Lanjutnya.
"Gue kasian. Takut elo kecapekan".
"Serius?"
Aku hanya mengiyakan. Lalu berganti membahas apakah ia capek karena aku atau masalah yang lain. Aku mengira ia kecapekan karena menjadi petugas bendera. Beruntungnya ia hanya kecapekan karena semalam sibuk mengerjakan tugas sekolah. Sampai semalam suntuk katanya.
"Sampai jam berapa?". Tanya Bulan saat kami sudah sampai di taman. Sedang mencari kursi taman untuk bersantai.
"Terserah kamu".
"Aku juga terserah kamu". Ucapnya sambil duduk di kursi taman.
"Nanti sore aja, elo gak sibuk kan?".
Bulan selalu setuju dengan aku.
Kami berteman sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dia pindahan dari kota dan bertetangga denganku. Semenjak saat itu aku sering bermain dengannya.
"Panas banget hari ini ya"
Aku hanya mengangguk.
Kami duduk di bawah pohon beringin yang rindang. Bulan membeli es teh untukku juga dan beberapa makanan. Uang kami masih tersimpan karena tadi tigak menikmati jam istirahat di sekolah.
Hingga hari kami terlewati dengan tawa dan candaan. Mungkin itu tak berarti menurut Bulan tapi tidak untukku. Entah hal apa yang terlukis di benakku tapi aku merasa lebih tenang di dekat Bulan.
***
Alarm di sebelahku berbunyi kencang. Pagi ini aku merasa tidak enak. Aku tertidur lagi tadi setelah sholat subuh.
Dari arah dapur terdengar suara memasak dan beberapa pengingat untuk aku segera mandi.
"Sebentar lagi Bu..!!"
Aku mengatur lagi kesadaranku. Sepertinya aku sedikit lebih kesiangan, karena aku juga belum mandi.
Aku beranjak dari tempat tidur ku menuju ke kamar mandi. Airnya terasa sangat dingin. Setelah itu, dan seperti biasanya aku melakukan hal lumrah ku lakukan . Sampai akhirnya Ibuku memberi tahu bahwa ada seseorang yang menjemput ku untuk berangkat bersama ke sekolah. "Zaki cepetan ada Bulan ini.."
" Iya bu..!. Aku kembali bergegas karena waktu sudah menunjukkan jam pelajaran pertama.
Beberapa menit yang lalu aku telah menyuruh Bulan untuk berangkat terlebih dahulu karena sudah hampir terlambat. Tapi, ia malah menolak hal itu dan ingin berangkat denganku. Jikapun terlambat, kan ada temennya. Katanya.
Aku berhasil mempersiapkan semuanya dan langsung berangkat setelah berpamitan dengan ibuku. "Kayaknya bakal dihukum". Kataku khawatir.
"Bodo amat. Kalo ada temennya kan gak kayak hukuman jadinya". Ucapnya, acuh.
Kami terus berjalan dan mendapati pintu gerbang sekolah sudah tertutup rapat. Pak Hasan selaku satpam di sekolahku berjaga sambil minum es cekek.
"Gimana?" Tanyaku penuh ketakutan.
"Gak tau.. kamu sih kelamaan kalo persiapan". Nadanya seakan -akan menyalahkan aku.
"Maklum.. bangun kesiangan". Pembelaan.
"Ke taman aja, gimana?". Ucapnya sambil berbisik dan penuh senyum usil.
"Bolos?". Tanyaku polos.
" Iya". Ucap Bulan dengan nada polosnya.
Aku menepuk dahiku.
Seorang Bulan yang menjadi bintang kelas dengan nilai yang baik mengajakku bolos sekolah?.
"Tumben?". Jarang sekali atau bahkan tidak pernah Bulan mengajakku untuk bolos sekolah.
"Males kalo dimarahin".
Kami masih berdiri di samping jalan sambil memandang gerbang sekolah dan satpam disana. Berdiskusi apakah aku harus bolos sekolah atau hadir dan di marahi oleh para guru.
Sampai akhirnya Bulan menyeretku dan mengajakku ke taman kota. "Kelamaan mikirnya".
"Gue takut Lan". Dengan nada khawatir.
"Penakut banget" Ucapnya dengan nada mengejek.
"Ini masalah sekolah, terus nanti pasi orangtua gue tahu".
Bulan masih menggenggam tanganku.
"Apa kata gue".
Aku mengembuskan napas dan pasrah dengan hal ini. Sepertinya baru kali ini aku bolos sekolah, dengan Bulan. Dan baru kali ini aku diajak bolos sekolah oleh seorang bintang kelas.
Suasana hari ini panas dan ramai. "Jam 09:26", gumamku pelan. Aku sangat badmood hari ini. Sepertinya 2 hari ini adalah yang terburuk.
Nada dering teleponku berbunyi. "Dari Farel", Aku bergumam.
"Elo dimana Zak!". Kata Farel dari balik telepon.
"Gue lagi bolos di taman". Jelasku, pura-pura santai.
"Sama siapa?. Tumben elo bolos".
"Sama Bulan". Jawabku, santai.
"Cie... Temen apa pacar tuh. Baru jadian ya?".
"Kayak baru tahu aja".
"Elo jadian sama Bulan!?" Tanya Farel terkejut.
"Apaan... Enggak. Maksud gua kayak baru tahu aja kalo gue selalu bareng sama Bulan".
Farel adalah sahabat terdekatku, bahkan paling dekat denganku. Kami sering dianggap adek kak.
Lalu Aku langsung mematikan panggilan.
"Kok sebentar banget. Tadi Farel kan?". Tanya Bulan memastikan.
"Lagi males" Jawab ku datar.
"Sama adek sendiri males". Ucapnya sambil tersenyum usil.
"Adek apaan". Jawab ku mengelak.
"Idiih. Gue bilangin Farel loh, kalo elo gak mau jadi kakaknya"
"Bilangin aja. Farel juga gak mau jadi adek angkat gue".Momen ini hanya diisi dengan candaan oleh Bulan. Ia pelawak yang pandai tapi juga mudah sedih. Aku sering menghiburnya dan senang melihatnya tertawa.
Aku dan Bulan pulang sangat sore setelah berkeliling di pantai sambil menikmati senja.
Angin di pesisir pantai sangat nyaman. Menghanyutkanku untuk selalu berlama-lama dengan Bulan jika duduk disini.
“Gue anterin gak?”. Tawaranku pada Bulan.
“Kemana emang?”. Tanyanya pura-pura tidak mengerti.
“Pulang lah”.
"Pulang kemana emang?”. Tanyanya dengan nada seperti anak kecil yang polos.
“Terserah dah”. Kataku lalu berjalan lebih cepat meninggalkan Bulan .
Bulan juga demikian dan menyusulku. “Anterin donk” Pintanya sambil mengangkat berulang kali kedua alisnya.
“Kemana emang?” Tanyaku dengan nada mengejek. Aku meniru suara Bulan.
Bulan kesal dan mendorongku dengan keras. “ Gak usah niruin aku ah!”.
Aku hanya tertawa pelan sambil pura-pura kesakitan. “Iya ayok”.
Bulan hanya mengiyakan dengan raut muka kesal.
Rumah Aku dan Rumah Bulan sebenarnya berdekatan. Mungkin hanya dipisah beberapa rumah.
Kami sering berjalan kaki bersama. Kami terlalu terbiasa untuk melakukan perjalanan yang lumayan jauh hanya dengan berjalan kaki. Menikmati segala hal. Suasana kota yang penuh polusi dan keramaian dan berakhir dengan kebahagiaan.
BAB 2
Hari ini aku berangkat ke sekolah. Memang menuju sekolah karena aku berangkat lebih pagi kali ini. Pastinya bersama Bulan.
Kemarin aku sempat berkata pada Bulan untuk berangkat lebih pagi agar tidak bolos sekolah. “Tumben?” Tanya Bulan merasa aneh karena aku mengajaknya berangkat lebih pagi padahal di bulan Bulan yang telah lewat kamu juga pernah bolos tapi Aku tidak pernah mempermasalahkannya.
“Kayaknya yang ini ketahuan Ibu”. Jawabku sambil berbisik.
Beruntungnya Aku yang bolos sekolah kemarin tidak di ketahui oleh Ibuku begitu juga dengan Ibu Bulan. Ibunya Bulan hanya bertanya kenapa pulangnya lebih sore.
Kami pun hanya menjawab sampel. “Ada tugas”.
“Hari ini ada PR lho..tahu gak?” Kata Bulan memberi tahuku.
“Iya udah tau”. Ucapku jengkel.
Bulan lalu terdiam tidak lagi berbicara. Aneh sekali jika bocah ini tidak bertindak tengil. Seperti bulan Bulan atau memang dia lagi sakit?. Aku tidak paham, Aku juga tidak ingin terlalu memperhatikannya. Mungkin saja ia nanti merasa risih jika aku demikian.
Pagi ini biasa saja. Tidak banyak yang harus aku ceritakan. Pagi ini hanya di mulai dengan bercakap dengan Bulan . Sepertinya hanya itu yang memberikan rasa aneh di hatiku. Suatu rasa yang entah apa. Aku pun tidak bisa menjelaskannya. Hanya saja aku merasa nyaman jika berada di dekatnya.
Selang beberapa menit kamu sampai di depan sekolah dengan tepat waktu dan selamat. Patut di syukuri. Mengingat akhir-akhir ini banyak sekali kasus kriminal yang menimpa anak-anak sekolah.
Kami berjalan melewati lorong lalu menuju kelas. Semua terlihat biasa saja sampai suara gaduh terdengar telingaku. Bulan juga sontak kaget dan merasa aneh dengan suasana pagi ini.
“Ada apa? Takut....”. Ucapnya sambil menahan lenganku.
Suara di dalam terdengar sangat keras. Suara meja dan kursi yang sepertinya terlempar dan suara siswi yang berteriak ketakutan.
Aku langsung bergegas menuju pintu masuk.
“Lo yang bener aja kalo cari masalah hah!!”. Kata Alaska pada Farel.
Mereka berdua saling berhadapan. Ada Hadi yang memisah mereka berdua dan beberapa teman teman temannya Alaska. Mulut Farel berdarah begitu juga pelipis mata kirinya. Seperti muntah darah. Kondisi Alaska lebih buruk lagi. Lebih banyak luka di wajahnya. Mereka berdua saling tidak terima dan juga tidak sabar untuk bertarung kembali.
Farel hanya diam tak berkata sepatah pun. Sedangkan terus berkomentar tidak terima.
Aku langsung melepas pelukan tangan Bulan, lalu berlari menendang Alaska dengan sangat keras . “Lo apain Farel hah!!” Teriakku ke Alaska sambil memukuli wajahnya dan ke beberapa teman di sampingnya. Siapa pun itu. Semua siswa juga selalu mengerti bahwa Alaska dan siapapun yang berteman dengannya adalah anggota geng nya. Dan akan selalu dinilai buruk.
Bulan berteriak histeris. Dia ingin meleraiku tapi takut untuk melakukan itu. Mengundang banyak siswa dan siswi untuk berdatangan menuju kelas.
“Baru sepagi ini kok udah ada masalah”.
Hadi masih tetap menahan Farel tapi yang kali ini Farel sangat berambisi untuk berkelahi lagi karena melihatku membelanya mati-matian. Tapi Farel juga tidak bisa memukuli Hadi karena tak mau melepasnya. Farel terjebak dalam keadaan.
Selang beberapa menit, Wali kelas kami langsung menuju lokasi setelah beberapa anak melaporkan kejadian ini.
Aku di lerai oleh P. Yanto selalu Wali kelas kami dan juga Ardi. Aku sedikit memberontak tidak terima karena Farel di pukuli. Walaupun Aku tak mengerti jelas siapa yang salah tapi Aku yakin Farel tak pernah memulai masalah. Farel adalah orang terbaik yang pernah kutemui, begitu juga dengan Hadi.
“Dia dulu yang salah pak!!!”. Aku membentak P. Yanto.
“Bacot Lo! Sini Lo banci!!!. Tantang Alaska padaku lalu meludah.
“Bacot Lo bangsat!!!”. Tak butuh waktu lama. Aku memberontak seakan-akan kesetanan. Menendang wajah Alaska dan memukulinya kembali. Tidak ada satupun yang akan meleraiku kali ini. Ini sudah waktunya.
Satu benturan dari kepalan tanganku mendarat di wajahnya. Membuat perkelahian ini sedikit redup serat menyisakan pertanyaan, Apa yang akan terjadi selanjutnya. Alaska terkapar bergelimang darah. Aku sedikit lemas. Beberapa temannya tidak terima dengan keadaan Alaska. Mereka lebih memberontak. Tapi teman kelas yang lainnya melerai.
Pacarnya terbungkus kesedihan. Mimpi buruk tengah menghantuinya bahwa Alaska telah mati. Suasana berubah menjadi lebih menyedihkan dan tragis. Kesanku berubah menjadi buruk di sekolah. Mungkin.
Aliran darah ini mengingatkanku pada kejadian kala itu. Saat aku masih menginjak kelas satu sekolah dasar. Sebuah ingatan yang membuatku menjadi pribadi yang aneh menurut sahabatku. Aku tak pernah jijik ataupun kasihan pada hal-hal yang berbau kekerasan seperti vidio penyiksaan.
Entah rasa apa yang singgah tapi aku juga tak pernah peduli.
Bulan berteriak sebelum itu, seakan mengingatkan ku untuk jangan melakukan hal itu. Ia berlari ke arahku dan memelukku tapi semua susah terlambat. Bajuku juga sudah memiliki bercak darah segar.
Aku berdiri kaku di hadapan jasad yang tak ku mengerti apakah masih bernyawa. Memandang kosong semua ini. Aku tak peduli kepada apapun. Aku tak bisa merasa nyaman dengan pelukan Bulan saat ini. Suara gemuruh hanya menggema pelan di telingaku.
Aku sudah pulang. Sesuatu terasa memberatkan tanganku. Aku ada dirumah. Rumah yang selalu aku ingat. Aku tak bertanya-tanya apa yang terjadi?. Aku masih teringat semua kejadian itu.
Bulan tertidur pulas di tanganku. Berapa lama?
“Sudah bangun. Ini minum”. Ucap ibuku yang baru masuk ke kamar membawa segelas air gula hangat.
Aku mencoba duduk tanpa membangunkan Bulan. Tapi terasa sangat sakit.
“Sudah bangun?” Bulan terbangun, bertanya panik.
Aku hanya mencoba duduk dengan nyaman. Punggungku sudah tidak nyaman lagi untuk berbaring.
“Farel gimana?”. Tanyaku tak berdaya.
“Di rumahnya. Baikan katanya”. Jawab Bulan.
Aku tertidur beberapa saat setelah kejadian itu. Saat itu adalah momen yang tepat. Oleh karena itu aku meluapkan semua amarahku.
Alaska memang seorang anak yang sangat buruk. Sudah beberapa kali ia di panggil ke kantor BK.
Masa lalu yang tak pernah terlupakan.
BAB 3
“Aku berangkat ya Zaqi. Cepet sembuh”. Pamit Bulan kepadaku. Aku masih berbaring di tempat yang sama seperti kemarin. Keadaanku memburuk.
Pagi ini Bulan menjengukku dan mungkin ini tanda, bahwa ia akan selalu menjengukku setiap pagi. Ia sedikit stres saat kejadian kemarin. Ia melihat banyak darah yang mengalir. Katanya ia tidak pernah melihat hal semacam itu.
Aku sedikit bersalah pada Bulan tentang kejadian itu. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan mendesak ku untuk melakukan pemukulan itu. Walau harus menghadapi lawan yang berkali lipat. Ini tentang Farel dan Ayah.
Badanku masih terasa sakit, terlebih di bagian punggung. Entah kenapa, mungkin karena kemarin Alaska sempat menendang ku lalu aku terjungkal dan punggungku menabrak meja. Aku tidak terlalu ingat tapi itu sepertinya benar. Setidaknya aku sudah melampiaskan emosi ini yang sudah lama, mungkin semenjak aku baru masuk sekolah ini. Aku dan dia sahabatku yang lain juga memiliki kesepakatan bahwa siapa yang bermasalah dengan Alaska harus ada yang keluar menjadi petarung dan yang satunya berpura-pura melerai. Dan itu semua sudah terkonsepkan, dalam artian Jika Hadi yang bermasalah maka Farel yang bertarung dan aku yang melerai mereka dan Hadi akan tetap berpura-pura tidak terima atau jika Aku yang bermasalah maka Farel akan bertarung dan Hadi akan menjadi pelerai lalu aku akan tetap ingin bertarung dengan Alaska seakan-akan aku tidak mau mengalah, dan begitulah kami. Kami selalu mendramatisir keadaan dan satu langkah lebih maju untuk berpikir.
Dan pagi ini, ada dua konsep yang sudah kami rapatkan sejak dahulu. Jika sekarang Alaska masih berangkat sekolah, maka Hadi akan duduk empat mata dengannya dan Hadi yang akan menjadi tumbal selanjutnya dalam cerita kami bertiga. Tapi, jika Alaska tidak berangkat sekolah, maka sudah selesai Farel dan Hadi akan membungkus kejadian kemarin dengan suasana Tiga bersahabat adalah pahlawan kelas dan sekolah.
“Kok masih masuk rel?.” Tanya Bulan kaget karena Farel masih berangkat sekolah dengan keadaan yang tidak ok.
“Masih kuat.” Jawabnya singkat.
“Gimana keadaan Zaqi?.”
“Membaik.”
Alaska benar tidak masuk sekolah hari ini. Ia tidak sanggup untuk terbangun. Padahal Alaska dibantu dengan beberapa anggotanya di kejadian kemarin. Tapi masih saja ia kalah. Zaki benar-benar melampiaskan semua kekesalan itu. Begitu juga dengan yang terjadi di masa lalu.
Komentar
Posting Komentar